Jakarta

Satu pesan pendek baru saja masuk.

“Males balik ke Jakarta”

Seorang teman yang sedang menikmati jatah waktu libur tahunannya berteriak dari kampung halamannya.

“Males balik ke Jakarta”

 

Ada apa sebenarnya dengan Jakarta?

Kota ini ironis, karena penuh dengan jiwa-jiwa jenuh, yang tak henti-hentinya berkeluh namun dengan bodohnya terus kembali menjejali

Kota ini sakit, yang denyutnya dipompa oleh pikiran-pikiran menyipit, yang setiap harinya berebut keluar masuk kereta sempit demi duit yang cuma sedikit

Kota ini ajaib, yang bak tabib meracik sendiri ramuan untuk menghibur jiwa yang jenuh dan menyembuhkan yang sudah terlanjur sakit: bangunan berlantai-lantai menjaja rupa –rupa kebahagiaan semu.

 

Tiga golongan yang saya temui di bangunan kotak-kotak yang disebut kantor:

1. Mereka sejak awal mula menyadari disinilah cinta mereka berada, sehingga mampu bekerja dengan sepenuh hati dan dedikasi tinggi

2. Mereka yang belakangan menemukan bahwa disinilah hati mereka berlabuh, sehingga mampu menyusul dan bahu-membahu bekerja dengan ritme golongan pertama

3. Mereka yang tengah berjuang menjadi golongan kedua. Celakalah sebagian golongan ini, yang gagal dan tak berdaya, terjebak dan terjangkit epidemi , menjadi zombi-zombi baru penghuni kota mati ini

Celakalah saya!

 

*Maret 2014
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: