Super Junior

Intinya adalah bukan pada siapa yang melakukan

Tetapi pada apa yang dilakukan

Begitulah kira-kira salah satu perkataan Anies Baswedan yang paling saya ingat, terutama dalam seminggu terakhir ini.

“Ibu, Ibuuu!! Kita so tau babaca!!!” Teriak Junior di pagi itu setelah sekian lama tak bertemu.

Di sekolah ini, saya mengenal seorang bocah laki-laki berkulit hitam legam, berambut keriting dan bermata bulat. Barisan gigi depan yang besar dan agak kekuningannya sangat mudah terlihat, terutama karena terlalu sering mulutnya menganga. Junior namanya. Junior kini telah berusia 10 tahun lewat empat tapi masih duduk di kelas empat.

Junior lah yang paling menarik perhatian ketika kali pertama saya masuk sekolah. Bagaimana tidak, bentuk fisiknya sudah paling menonjol, ditambah larinya yang gontai ketika bermain bola dan muka menganganya, siapa yang akan lupa. Terlebih lagi dengan bumbu-bumbu cerita setiap guru.

Dengan muka minta pemakluman, wali kelas empat berkata, “Itu Junior memang agak-agak lain, Bu. Kita jangan terlalu banyak berharap. Sebetulnya koak kalau disini ada SLB so dikasih masuk no ke sana. Aduh kasiang! Jadi biar jo kalau cuma iko’-iko’ begitu di kelas”. Dari cerita sang wali kelas pula saya mengetahui bahwa Junior teramat setia dengan kelasnya, alias, satu kelas pasti ia duduki selama dua tahun, minimal.

“A! Mulut dibuka lebar, Junior!!”

“Aaaaaaa!!”, lagi, Junior menganga.

Awalnya saya mengira Junior adalah anak dengan Down Syndrome. Tapi ternyata tidak, karena ia bisa bercerita panjang lebar dengan alur yang runut. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan sederhana saya pun dapat dijawabnya, tentu masih dengan mulut menganga khas nya.

“Aha! Mungkin Junior diseleksia!”

Ah, entah makhluk apalagi itu diseleksia. Kata asing itu pun baru sering saya dengar ketika di pelatihan dulu.

“Baiklah!”

Dengan berlandaskan semangat empat lima, akhirnya saya memutuskan bahwa Junior harus bisa membaca. Tidak seperti anak-anak lain yang datang ke rumah atau sekolah untuk belajar, Junior mendapat perlakuan khusus. Setiap sore, kami berdua memiliki janji temu, di kampung sebelah, di tepi pantai depan rumahnya. Junior belajar membaca, saya belajar mengajar membaca.

talud tempat Junior belajar membaca

“CA! Seperti riCA, Junior!”

“Caaaaaa”, sambut Junior dengan tetap menganga.

Begitulah, dalam satu hari Junior belajar satu suku kata. Satu suku kata adalah sebanyak satu halaman buku ajar yang saya gunakan. Saya berhipotesa bahwa menamatkan buku ajar setebal 140 halaman tersebut sama dengan Junior bisa membaca. Maka hasil hitung-hitungan idealis (tanpa memperhitungkan hujan, saya ke kota, sakit, atau terlalu lelah) saya menghasilkan angka 5 bulan, sebagai waktu bagi Junior untuk bisa membaca.

Pernah satu dua hari saya tidak datang karena hujan cukup besar, pernah dua minggu saya kembali alpa karena sakit di luar kota, atau pernah satu dua hari lain karena kalah dengan lelah, hingga puncaknya satu bulan saya pergi meninggalkan Junior karena sebuah urusan di kota.

“Ibu, Ibuuu!! Kita so tau babaca!!!” Teriak Junior di pagi itu setelah sekian lama tak bertemu.

 

Terkaget-kaget dan tak percaya saya memastikan kembali, “Betul Junior so tau babaca?”

“Betul, Ibu!!” Binaran mata bulatnya lah yang berkata.

Junior melanjutkan, “Mamak ada kasi ajar pa kita!”

Saya tersentak. Masih sulit percaya.

Hati ini diam-diam bergumam, “Bagaimana mungkin? Junior bahkan belum sampai pada setengah buku ajar.”

Bahkan saya tidak ikhlas, “Mengapa saya melewatkannya? Mengapa momen itu tidak terjadi nanti saja ketika saya sudah mulai mengajar kembali? Mengapa dengan mamaknya? Mengapa tidak dengan saya?”

Seketika itu juga saya menyesal sedalam-dalamnya, layaknya orangtua yang hanya mampu mengingat ketika anaknya masih berjalan tertatih-tatih tak seimbang dan melewatkan momen ketika anaknya pertama kali mampu melangkah tegap tak terjatuh.

Intinya adalah bukan pada siapa yang melakukan

Tetapi pada apa yang dilakukan

 

Begitulah kira-kira salah satu perkataan Anies Baswedan yang paling saya ingat, terutama dalam seminggu terakhir ini. Mungkin selama ini kita telah terjebak dalam kubangan egoisme tak kasat mata. Egoisme karena begitu kuatnya keinginan memiliki sehingga sampai pada lupa akan apa yang utama. Merasa ingin memiliki semua, ingin melakukan semua, ingin mengendalikan semua, hingga lupa bahwa semua ada takaran dan ukurannya. Junior yang mengingatkan, bahwa tidak semua harus saya miliki, saya lakukan dan saya kendalikan.

Tentu bagi Junior yang penting adalah ia kini telah mampu bembaca. Tentu tak penting baginya siapa yang membimbing hingga akhirnya ia bisa. Mamaknya atau saya, tak ada beda. Dan bukankah memang baik, bahkan sangat baik, bila memang orang terdekatnya sendiri yang membimbing? Bukankah memang itu intinya?

Tiba-tiba saya teringat, dulu saya memutuskan untuk mendatangi langsung rumah Junior di kampung sebelah bukan hanya karena Junior memang perlu didatangi, melainkan juga karena ada keinginan untuk mengajak orangtua, bahkan masyarakat sekitar, agar berupaya bersama. Untungnya saya tak pandai berkata-kata, sehingga ajakan tidak saya sampaikan dengan lisan, melainkan perbuatan, dengan sengaja membuat janji temu di pantai depan rumah Junior. Agar orangtua melihat, agar masyarakat melihat, agar semua ikut berbuat.

Selain itu, saya rasa salah satu pembakar semangat Junior sehingga dapat membaca adalah karena ia sedang jatuh cinta.

Sindy namanya, kelas enam.

Setiap orang lewat yang mendengar Junior tertatih-tatih membaca kata berkata, “Kase bagus ko Junior mo babaca, supaya Sindy mo suka pa ngana!”

Kontan Junior mengeraskan suaranya, “BA CA, CA CA, A BA CA…!!”

Beginilah seharusnya orang yang jatuh cinta 😉

 

super junior

Suatu sore di Pantai Batuwingkung,

November 2011

**

Belakangan saya ketahui bahwa Junior adalah anak yang tidak diharapkan. Sewaktu mengandung Junior, mamaknya sudah menelan berbagai macam ramuan untuk menghentikan pertumbuhan Junior dalam kandungan. Kuasa Tuhan, Junior bertahan.

Junior telah berhasil terus tumbuh dalam kandungan. Saya yakin, Junior juga akan bertahan, terus bertumbuh dalam masyarakat.

Junior saat ini sudah bisa membaca, selanjutnya adalah melatih kemampuannya menulis. Ternyata saya temukan, huruf-huruf favorit Junior adalah S, I, N, D dan Y!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: