NO RULES!

Bagaimana kalau tidak ada peraturan?

Bagaimana kalau instruksi yang mengikat ditiadakan?

Yang tersisa adalah padang luas penuh kemungkinan, yang bisa terisi hanya oleh imaji.

 

Sabtu pagi itu, di kelas lima.

“Hari ini belajar apa, Bu Guru?”

“Coba sekarang, tutup saja buku kalian dan simpan di dalam tas”

“Mau ulangan ya, Bu?”

Saya hanya tersenyum dan menjelaskan, “Dengarkan dulu, ada yang ingin berkenalan dengan kalian”.

 

……………… (Kemudian saya pun mulai membacakan dua lembar surat di tangan dari seorang teman)

 

“Nah sekarang, Ibu berikan satu lembar kertas lipat dan satu lembar kertas karton. Tersedia spidol warna-warni di depan. Ada gunting dan ada juga lem yang bisa kalian manfaatkan.”

Saya melanjutkan, “Tidak ada perintah lain kecuali balaslah surat yang baru saja Ibu bacakan. Apapun boleh ditulis, apapun boleh diceritakan. Manfaatkanlah bahan-bahan yang tersedia sesuka hati kalian. Silakan.”

 

Hening sesaat, mata-mata melongo, dahi berkenyit dan kegaduhan pun dimulai.

“Ibu, boleh tulisnya di kertas lipat? Ibu, boleh kalau tulis di kartonnya? Ibu, boleh digambar? Ibu, boleh kalau nyanda mo tulis1 Yth.? Ibu, boleh tulisnya pendek? Ibu, boleh tulisnya pake spidol? Ibu, boleh kalau jelek kita pe tulisan2? Ibu, boleh…..”

 

Ribut, chaos, bingung, kesal.

Begitulah kira-kira, ketika anak untuk pertama kalinya dihadapkan pada kondisi banyak pilihan. Mulanya saya sangat heran, saya mengira yang akan terasa adalah kegaduhan penuh suka cita karena pembebasan. Namun ternyata, reaksi yang muncul adalah rasa frustasi dan kekesalan.

 

Begitulah kira-kira, ketika anak tidak terbiasa dengan kondisi bebas tanpa batas.

 

Selama ini, kita sebagai orang tua atau yang dituakan, memiliki kecenderungan untuk mengambil hak anak untuk belajar, disadari atau tidak.

Dengan memberikan terlalu banyak instruksi, kreativitas otomatis terbatasi.

Peraturan yang selama ini dirasa memberatkan, sungguh sebenarnya amat sangat memudahkan. Karena kita tidak perlu mempertimbangkan banyak kemungkinan. Karena sudah ada peraturannya, petunjuk mana yang boleh, mana yang dilarang.

 

Jika diibaratkan, untuk membuat sebuah lingkaran, tentu kita tahu yang harus dibuat adalah garis lengkung – alih-alih garis lurus. Dan ketika kita menemukan anak membuat garis lurus, secara otomatis kita cenderung mengarahkan bahwa yang seharusnya dibuat adalah garis lengkung, tanpa memberi kesempatan pada anak untuk melihat sendiri konsekuensi dari garis lurus yang dibuatnya, yang ternyata berujung pada bangun segitiga atau segiempat. Dengan memberikan arahan demikian, sesungguhnya, kita telah mengambil hak anak untuk belajar.

 

Mungkin untuk urusan sepele semacam membuat lingkaran, kita masih dapat berada di sisi mendampingi sehingga, kita arahkan atau tidak, anak akhirnya akan tetap paham bahwa lingkaran memerlukan garis lengkung. Hasil akhirnya memang sama. Tapi ada yang hilang, proses melihat kesalahan dan pembelajaran memperbaiki kesalahan.

 

Akan berapa lama kita mampu mendampingi anak kita? Ada berapa juta hal-hal sepele semacam membuat lingkaran yang mungkin kita lewatkan untuk kita berikan arahan?

Anak yang tahu cara belajar akan menemukan sendiri jalan keluar.

Anak yang terbiasa dengan arahan akan sendiri tersesat dalam kebingungan.

 

Mengapa tidak membiarkan saja anak memilih?

Mengapa tidak membiarkan saja anak melakukan kesalahan dan belajar darinya? Mengenal konsekuensi atas pilihannya.

Bukankah hidup memang adalah sebuah pembelajaran?

 

Jikalau hak belajar tersebut telah kita rampas, mampukah di kemudian hari, ketika telah tumbuh menjadi manusia dewasa, anak mengambil pembelajaran dari kesalahan-kesalahannya, sehingga selalu bertumbuh menjadi insan yang lebih baik?

 

Bukankah Tuhan bersifat Maha Pengampun untuk mengampuni kesalahan-kesalahan hambaNya?

Tidakkah kesempatan untuk bertaubat adalah sekaligus perintah untuk selalu belajar?

Tapi tahukah kita cara bertobat (belajar)?

 

Maka, tugas kita sebagai orang tualah untuk meyakinkan anak-anak kita, bahwa salah itu tidaklah salah, selama ada pembelajaran dari padanya dan kita belajar dari padanya.

Dan maka, tugas kita pulalah untuk memastikan bahwa memang betul telah terjadi pembelajaran dari kesalahan yang dilakukan.

 

Membiarkan bukan berarti melepas tanggung jawab.

Kebijaksanaan kitalah yang menentukan, batas aman bagi anak untuk melakukan kesalahan, untuk belajar.

 

Karena ketika telah dewasa, begitulah kiranya. Manusia dewasa telah memiliki sepenuhnya hak untuk menentukan jalan hidupnya. Ketika orang tua tidak bisa lagi membatasi. Ketika kita adalah sepenuhnya pilihan kita.

 

Yang tersisa adalah padang luas penuh kemungkinan, yang bisa terisi hanya oleh imaji.

 

Akan siapkah anak kita untuk memilih?

Akan siapkah anak-anak kita menjadi dewasa?

 

 

1  Nyanda mo tulis – bahasa percakapan Sulawesi Utara yang berarti “tidak mau menulis”

2  Kita pe tulisan – bahasa percakapan Sulawesi Utara yang berarti “tulisan milik kita”

Advertisements

2 responses to “NO RULES!

  1. arifsab

    brenti jo begate, bahasa percakapan sulawesi utara yg berarti “berhenti mabok”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: