Mengajar Adalah

Mengajar adalah melakukan perjalanan kembali ke masa lalu.

Potret-potret tua diri belia tak henti menyapa.

Bagaimana Mama mengajar membaca, bersama Bapak mengecat bubur kertas berbentuk pulau Papua.

Dan malam-malam larut diri melarut dalam ilham.

 

Mengajar adalah berempati.

Ketika dahulu penjumlahan dan pengurangan tak pernah menjadi masalah berarti, menjelaskan kembali perkara paling mendasar ini membutuhkan sedikit jiwa cenayang.

Untuk menerawang dimana pikiran mereka sedang melanglang dan apa yang menghalang.

Sehingga menjadi sabar karena merasa susah yang sama, berdiri sejajar bersama mencari jalan keluar.

 

Mengajar adalah mawas diri.

Ucapanmu yang hanya pada si sulung, akan terdengar di seluruh penjuru kampung.

Perbuatanmu yang sekali, akan direplikasi menjadi banyak kali.

Kebiasaanmu yang selalu, akan melulu ditanya ketika sekali saja alpa.

 

Mengajar adalah belajar.

Sudah khatam diri akan hitung-hitung sederhana.

Sudah lihai pula memaknai setiap kalimat dan kata.

Yang tertinggal adalah meneruskan.

Masih tebal bab-bab yang harus dibaca tentang jiwa manusia-manusia muda.

Masih sibuk merumuskan formula terbaik tentang seni menampilkan materi dalam bentuk apik.

Masih banyak pula kelas-kelas yang harus dihadiri, yang selalu menjadi refleksi.

 

Mengajar adalah menjadi cantik.

Bagaimana tidak, jika si Mega di kelas tiga seolah punya rasa penasaran pangkat tiga.

Selalu bertanya akan busana yang dikenakan.

Selalu mengamati gerak-gerik diri.

Tak pernah lepas pula mengomentari tumbuhnya jerawat kecil di pipi.

 

Mengajar adalah menemukan cinta.

Mereka yang dekat, menjadi penyemangat.

Dia yang jauh, membuktikan dukungan penuh.

 

Mengajar adalah menjadi manusia, seutuhnya.

Insan Tuhan yang memaknai masa lalu, merasa dalam setiap kata, berhati-hati dalam membawa dan merawat diri dan yang mencintai.

Tuhanku, maafkan jiwa ini yang masih terlalu sering merindu nikmatmu yang telah lalu, sehingga alpa mengingat nikmat setiap saatMu.

 

Mengajar adalah bersyukur.

 

*catatan ini ditulis sebagai refleksi selama setahun menjadi guru di Pulau Batuwingkung, Sangihe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: